Tradisi Budaya

Dunia Pendidikan

Dunia Prempuan

Figur Inpiratif

Ekspresi Diri

Interview

Lintasan

Ekspresi Tamu

Kearifan Lokal

Lilik Rosida Irmawati: “Pengalaman Jadi Sumber Inspirasi”

Diposting oleh: Lilik Soebari pada tanggal: Rabu, 25 Mei 2016 | 0 komentar | Leave a comment...

Lilik Rosida Irmawati
Madura Aktual, Sumenep; Pembawaannya yang periang dan mudah bergaul dengan siapapun merupakan sifat utama yang melekat pada perempuan kelahiran Jember, 16 Juli 1964 silam ini. Lahir dengan nama Lilik Rosida Irmawati dan memiliki banyak nama samaran; seperti El Iemawati, Lilik RI, dan lain-lainnya. Ia juga kini terbiasa menulis namanya dengan Lilik Soebari.

“Nama ayah saya,” kata isteri budayawan Syaf Anton ini saat ditanya siapa Soebari itu, singkat.

Di kalangan perempuan di Sumenep, profil perempuan seperti Lilik tidak banyak ditemui. Aktivitas kesehariannya memang lebih banyak ke ranah publik. Disamping sebagai guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala salah satu SDN di Sumenep ini, Lilik juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Tulisannya tersebar dalam beragam bentuk. Mulai dari kolom, opini, maupun tulisan fiksi seperti cerpen, bahkan novel. Tak hanya itu sejumlah bukunya sudah beberapa di antaranya diterbitkan.

“Saya mulai menulis sejak duduk di bangku SPG di Bondowoso,” kisah ibu tiga anak ini.

Sejak di bangku sekolah menengah itu tulisan Lilik sudah mulai mengisi lembaran halaman beragam media massa. Dan memang tulisan awalnya yang sering dimuat di majalah-majalah adalah tulisan fiksi, yaitu cerpen, ovellet, yang selanjutnya menjadi novel. Baru setelah itu ia mengembangkan diri dengan menulis lepas dalam bentuk bentuk artikel, essai, feature dan lainnya.

“Semuanya mengalir begitu saja,” kata perempuan berkacamata tebal ini.

Menurut Lilik, sumber inspirasi menulis banyak didapat dari observasi dan turun langsung ke lapangan. Pengalaman diakuinya memberikan hamparan ide yang tak habis-habis untuk digali. Pengalaman paling berkesan dan berharga baginya saat masih menekuni aktivitas mengajar sebagai guru di pelosok kecamatan pinggiran di Sumenep.

“Dari sana saya banyak menimba pengalaman , khususnya pengalaman hidup masyarakat pedesaan,” imbuhnya.

Dari hasil observasi dan pengamatannya di lapangan, maka novelnya dalam bentuk fiksi realis diterbitkan di Majalah Fakta Surabaya sebagai Cerita Bersambung tahun 1994 berjudul "Marlena, Perjalanan Panjang Wanita Madura".

Disusul dengan buku bunga rampai seni tradisi Madura "Berkenalan dengan Kesenian Tradisional Madura",  yang diterbitkan oleh SIC Surabaya (2004). Kemudian "Gai' Bintang" (Disparbud Sumenep, 2007) merupakan kumpulkan folklore Madura dan sekaligus merupakan bentuk apresiasinya terhadap sastra lisan Madura. Hingga sekarang pun Lilik mengaku tengah menyiapkan buku-buku lainnya, dan masih di sekitar kehidupan seni tradisi Madura.

“Tunggu waktu untuk diterbitkan,” katanya sambil tersenyum.

Meluangkan waktu menulis bagi perempuan yang berprofesi sebagai pegawai pemerintahan, ditambah sebagai top leader di sebuah lembaga pendidikan, tentu bukan hal yang mudah. Apalagi Lilik juga terkadang disibukkan dengan aktivitas dadakan lainnya semisal menjadi narasumber atau pembicara di seminar-seminar pendidikan maupun budaya. Suaranya juga sering mengudara di dua stasiun radio di Sumenep, yaitu RRI dan RGS.

“Di RRI Pro 2 setiap minggu mengisi acara Warna-warni. Sedang di RGS mengasuh acara Budaya Kita setiap Sabtu siang. Ya intinya enjoy aja. Jalani saja hidup ini,” ungkapnya.

Di dunia jurnalistik pers, Lilik juga tercatat sebagai salah satu kuli tinta di Sumenep. Hingga kini Lilik aktif di Tabloid Info Sumenep sebagai salah satu reporter.

Tak hanya itu, Lilik juga merupakan salah satu aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat di Sumenep yang bergerak di bidang pendidikan. Sebagai aktivis LSM, ia menjadi Ketua LSM Poernama, yaitu LSM yang bergerak dibidang pengembangan pendidikan dan budaya. Lilik juga memegang kendali atas LSM Cerdas Bangsa, yang diarahkan sebagai bentuk pengembangan pendidikan, kesehatan dan lingkungan hidup.

“Jadi, seorang perempuan juga memiliki tanggung jawab yang sama di hadapan Negara dan masyarakat. Sama seperti laki-laki. Namun bukan berarti harus di posisi yang sama. Secara kudrati, fungsi memang tidak sama. Cita-cita Kartini bukan berarti harus menukar fungsi atau menyamakan fungsi seperti dalam kehidupan rumah tangga. Perempuan hanya harus maju, sehingga tak ada lagi diskriminasi yang memandang perempuan tidak dengan kedua belah mata,” tutupnya.

(m farhan muzammily)



Alqur’an Itu Unik dan Universal

Diposting oleh: Lilik Soebari pada tanggal: Selasa, 10 Mei 2016 | 0 komentar | Leave a comment...

Kalau laut diibaratkan sebagai tinta, dan ranting diumpamakan sebagai pena, maka lautan yang membentang di seluruh jagat raya serta berbilyun ranting tidak akan mampu menggali semua ilmu yang terkandung dalam Alqur’an. Dari masa ke masa penggalian dan pengkajian berbagai disiplin ilmu yang bersumber pada Alqur’an tidak pernah surut, Alqur’an menjadi sumber utama, menjadi sumber inspirasi bagi perkembangan keilmuan dan tingginya peradaban manusia.
Lebih konkrit mencermati dari berbagai sudut pandang tentang keunikan dan keuniversalan Alqur’an, berikut bincang-bincang El Iemawati dengan Ustad Abdurrahman Nasrudin, Jum’at, 4/09/2009

Sebenarnya makna apa yang terkandung pada Nuzulul Qur’an ?
Nuzululul Qur’an tepatnya saat atau waktu diturunkannya Alqur’an, ada sebagian ulama mengatakan bahwa secara keseluruhan diturunkan oleh Allah SWT dan dipersiapkan untuk diturunkan kepada Rasulullah pada waktu itu. Tapi ada sebagian yang mengatakan pertama kali Rasulullah mendapatkan wahyu, diturunkan Alqur’an pertama kali Iqra pada waktu itu, Inna anjallnahuu fill lailatur qodar mawa adrokama lailatur qodar, ada yang mengatakan pada lailatur qodar, sebagaimana terdapat pada surat Ad-Dhuha. Surat tersebut juga menjelaskan bahwa pada saat diturunkan Al-Quran, ada sebagian ulama menyatakan bahwa Alqur’an diturunkan secara keseluruhan, dan dibiarkan di atas langit, lalu diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah berkenaan dengan asbabul nuzulnya, berkenaan dengan sebab-sebab turunnya Alqur’an itu, secara berangsur sampai berakhir ayat itu diturunkan, yaitu ayat Al-Maidah

 Dalam konteks kekinian, bagaimana upaya untuk memahami Alqur’an secara utuh, ini berkaitan dengan para penafsir yang dalam setiap jamannya mengalami perubahan ? Apa ada kriteria penafsir, apa orang yang ahli agama, lembaga keagamaan atau pribadi ?
Saya kira Alqur’an itu sangat fleksibel karena bisa dipahami oleh semua kalangan, itu uniknya Alqur’an. Pada saat turun, di saat orang-orang Arab pintar balagah, begitu, tapi secara ilmiah belum begitu mumpuni, dia sanggup memahami dan menjiwai Alqur’an. Mungkin andaikata dikaitkan dengan keilmuan yang berkembang pada saat ini, yaitu intelegen question, emosion question ataupun spritual question, mungkin dari ketiga-tiganya itu Alqur’an ada didalamnya. Karena bisa dipahami secara mentalnya, secara kecerdasan umum, ataupun spritualnya bisa, dan sangat rasional Alqur’an itu

Berkaitan dengan paparan Ustadz, kriteria apa yang mesti dipunyai oleh para penafsir untuk menggali Alqur’an ?
Ya kalau mau menafsirkan secara tekstual, secara harfiah, mungkin kita harus tahu lughoh, tahu nahu, tahu syorof, tahu usul fighnya, tahu kaitannya dengan fikih tahu sejarahnya dan menguasai bahasa Arab. Karena Alqur’an itu sangat unik dan universal. Tapi andaikata mereka sudah tidak mampu untuk mempelajari bahasa Arab itu sendiri, kita lihat terjemahannya, dan dipahami, andaikan tidak mengerti bisa bertanya kepada orang yang mampu dan menguasai bidang itu

Dalam artian apabila seseorang tidak mampu menafsirkan secara harfiah bisa menafsirkan hanya dengan terjemahannya ?
Ya, tidak apa-apa, tidak menjadi masalah, Alqur’an itu memang unik, mau dilihat dari terjemahannya andaikata diberi hidayah oleh Allah SWT, Insya Allah orang tersebut akan sanggup untuk memahaminya

Alqur’an kan ada seribu penafsiran dan ada bebarapa kelompok aliran, seperti JIL ataupun HTI. Menurut Bapak ?
Saya kira biasa-biasa saja, umpamanya seperti kelompok-kelompok mereka kan terletak pada penekannya. Seperti JIL penekannya secara rasionalitas, akal. Saya melihat dasar mereka lebih banyak berfikir secara rasional dan menekankan pada logika, seperti usul Figh itu memang banyak berbicara masalah rasional, cara penarikan hukumnya, kodifikasi hukumnya rasional. Atau umpamanya, mereka yang menekankan menafsirkan Alqur’an dengan diterjemahkan secara Alqur’an juga, ada yang menafsirkan Aqur’qn ditafsirkan dengan Hadist, menafsirkan Alqur’an dan menterjemahkan secara hukumnya, hukum syariahnya
Dan itu sah ?
Ya, memang kalau kita melihat dari tafsir-tafsir yang mu’tamat, diakui, di antara beberapa tafsir memang mempunyai ciri-ciri cara menafsirkan. Ada yang menafsirkan secara roi, akal, rasional, ada yang menafsirkan harus I’timat dengan Hadist-hadist, malah ada yang isroiyat, cerita-cerita isroiyat itu juga dimasukkan meskipun kebenarannya itu masih dipertanyakan. 

Dari beberapa penafsir yang mumpuni itu ada beberapa perbedaan yang kontras, seperti Al-Maruqi, Imam Syafi’I, dan lainnya. Bagaimana itu ?
Saya kira kalau kontradiksinya cuma di fiqih, saya kira masih bisa disamakan. Meskipun juga di dalam masalah ketuhanan, masalah urubiyah itu sebenarnya pengembangan-pengembangan daripada zaman ke zaman. Seperti Abu Hasan Al-Ashari, beliau menafsirkan bahwa sifat-sifat Allah SWT itu 20, beliau mengambilnya juga dari Alqur’an, itukan sebenarnya rincian dari Laila Haillallah Muhammadar Rasullullah. Sedangkan pada waktu kebawah lagi, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim, Muhammad Abdul Wahab Attamimi,beliau-beliau lebih mengembangkan lagi. Mungkin bagi mereka, istilahnya sangat fanatik, pemikirannya lebih pro pada diatasnya, mungkin pendapat yang baru tidak sanggup menerima. Padahal ilmu Allah SWT itu sangat luas, jendela-jendela keilmuan itu sangat banyak

Berkaitan dengan umara yang katakanlah taraf pencarian ilmunya hanya mendengar, bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut agar tidak terjadi benturan-benturan ?
Kalau istilah mendengar itu kan proses, masalahnya manusia pada umumnya itu ya awalnya harus mau mendengar. Wainnahuula dikrolimankanalahuu kalbun … dst, pertama dia harus punya hati dulu, keinginan, setelah itu dia mau mendengar, setelah itu mau berfikir, prosesnya begitu. Jadi andaikata mereka dari kalangan awan, mendengar saja, seperti katanya Qult Mustamian. Jadilah kamu orang yang mendengar, kun aliman, au mutaalliman, au mustamian. Jadilah kamu memang orang yang alim, sangat tahu atau orang yang mencari, mempelajari atau mustamian, orang yang mendengar. Ada beberapa fase dalam mempelajari ilmu agama

Dari beberapa penafsiran tersebut muncul perilaku-perilaku keagamaan, khususnya di Indonesia, ada jamaah tablig, ada jemaat berjenggot, dan ada yang tasawuf. Mereka-mereka ini seakan-akan menjadi sangat eksklusif. Bagaimana ini ?
Ya, eksklusif menurut mereka sendiri, ha…ha…ha…, sebenarnya ndak apa-apa. Bagi saya pribadi bebas dalam hal masalah ini. Seseorang kadang-kadang ada kecenderungan untuk lebih tasawuf, sufi, ada kecenderungan berfikir secara tekstualnya, ada yang lebih pada kontekstualnya, ada yang berfikir masalah mentalnya, berfikir masalah sejarahnya, dan ada yang menekankan pada masalah rasionalitasnya. Titik penekanannyaitu terserah pada masing-masing kelompok, yang penting harus saling menghormati dan menghargai dan tidak saling memvonis, saling menyalahkan serta saling membenarkan kelompoknya

Nah, mengapa sampai muncul perbedaan-perbedaan semacam itu ?
Itu adalah khasanah, dan itu adalah salah satu bukti bahwa Allah SWT Maha Kaya. Akal, otak manusia yang kecil itu diberi keragaman berfikir yang satu sama lain tidak sama. Bayangkan, berbilyun-bilyun manusia sejak jaman diturunkan ke muka bumi sampai sekarang. Pada zaman Rasullullah saja ada sebuah permasalahan yang berfikir diantara para sahabat itu juga berbeda, Rasullullah bisa menghargai satu persatu. Contoh, ketika ada tawanan perang Rasulullah meminta saran kepada Umar, Umar memberikan saran supaya tawanan itu dibunuh saja karena musuh, ketika minta saran kepada Abubakar, Abubakar memberi saran agar satu dari mereka bisa mengajarkan baca tulis karena masih banyak yang buta huruf, bagi mereka yang mampu agar ditebus dan yang ngotot dibunuh saja. Rasulullah mengambil saran dari Abubakar, dan saran dari Umar juga tidak ditinggalkan. 

Dalam artian, pemahaman Alqur’an disesuaikan dengan konteks zaman dan dikaitkan dengan kemampuan akal manusia serta ketinggian budaya serta ketinggian ilmu yang dimiliki oleh setiap umat ?
Ya, betul itu, ya dari pengalaman seseorang, ya dari keilmuannya, dari latar belakang pendidikannya, dari pengelaman-pengalaman kehidupannya juga dari mental orang tersebut. Maka dengan kemampuan orang tersebut memahami dan mengkaji Alqur’an terjadilah tafsir. Umpama tafsir Ibnu Katsir, beliau murid dan pengagum dari Ibnu Qoyyim dan Ibnu Taimiiyah, meskipun mazhabnya Syafi’i. Jadi ada kolaborasi dari Syafi’I dengan yang ekstrim antara Ibnu Qoyyim dan Ibnu Taimiyah. Cara penafsirannya kalau Ibnu Katsir lebih banyak menafsirkan secara Qur’an dengan Qur’an, Qur’an dengan Hadist dan suatu saat beliau juga mengambil hal-hal dari luar,  cerita-cerita Israiliyat, begitu. Kadang-kadang hukum masuk didalamnya, sangat di rinci, karena mazhabnya Syafi’I, ada kolaborasi tertentu

Dari sekian warna, bagaimana cara memilihnya yang paling afdol ?
Yang paling afdol adalah yang mengambil dari Alqur’an dan Hadist, semua kalau sudah bermuara pada keduanya itu Afdol. Cuma kadang-kadang kita yang  menafsirkannya beda-beda, umpamanya salah satu contoh, La yaa masru illal muthoharran, ini mengambil di ahya La yaa masru illal muthoharran, ada satu versi yang mengatakan bahwa ini hukum katanya. Ini bentuknya adalah hobariyah tapi yang dimaksud imsaiyah, hobariyah itu bentuk berita tapi itu perintah sebenarnya. Yaamasruhu, tidak menyentuh kepada Alqur’an kecuali orang-orang yang suci, maksudnya tidak menyentuh kepada Alqur’an, itu perintah kecuali orang-orang yang suci. 
Ada versi sahabat yang seperti itu dan diikuti ke bawah seperti mazhabnya imam Syafi’I, ada satu versi yang mengatakan bahwa tidak menyentuh kepada Alqur’an di Lau Mahfud kecuali mereka yang disucikan, para malaikat. Jadi satu mengatakan La yaa masru illal muthoharran, adalah orang yang suci yang ada di bumi, ada juga yang mengatakan dalam versi sufi, tasawuf maksudnya adalah tidak akan mengenai kepada hati atau tidak akan memahami hati kepada Alqur’an kecuali mereka yang disucikan hatinya. Seperti banyak dari kalangan orientalis bisa mempelajari Alqur’an, tapi tidah tersentuh untuk diberi hidayah dengan Alqur’an. Karena La yaa masru illal muthoharran, itu maksudnya. 
Ada lagi versi di Syiah, La yaa masru illal muthoharran, itu tidak bisa menafsirkan Alqur’an kecuali mereka yang disucikan. Yang bisa menafsirkan Alqur’an itu orang yang disucikan oleh Allah SWT dan nashnya ada dalam Alqur’an, yaitu imam yang 12. Jadi dari satu sama lain kadang-kadang Alqur’an ditafsirkan menurut versinya dan saling mengklaim. Saya kira, itu benar semua. 

Sikap apa yang mesti dilakukan dengan berbagai perbedaan tersebut ?
Kita punya nurani, kita bisa berguru karena kita punya orang-orang yang ahli di sekitar kita. Andaikata mereka dalam menafsirkan Alqur’an keliru, maka mereka akan mendapatkan satu pahala. Dan apabila mereka menafsirkannya Alqur’an ijtihajnya benar, maka mereka akan mendapat pahala dua. Meskipun mereka mengklaim benar belum tentu menurut Allah SWT yang paling benar. Cuma nanti keputusannya di sisi Allah SWT. Semua diantara mazhab saja kadang-kadang kontradiksinya terlalu tajam, sebagian membatalkan, sebagian tidak membatalkan, contoh kecil, wudhu. 
Di antara para mazhab yang mu’takmat banyak yang berbeda, seperti dalam nikah. Ada sebagian kalau sahid harus pada waktu akad. Tapi kalau di Malik tidak pada waktu akad, tapi pada waktu masuk, kumpul dengan istrinya, itu ada sahid. Ada yang wali cukup dengan dirinya si perempuan, itu seperti Abu Hanifah, ndak usah wali ndak apa-apa. Meskipun konsekwensinya di antara pengikut imam Syafi’I, seperti Buhori, Muslim, perawi-perawi Hadist yang handal tidak mau menerima Hadist yang dirawikan oleh Abu Hanifah, karena perbedaan itu. Meskipun Abu Hanifah pada waktu itu cara beragumentasinya sangat pas. Ada lagi sahid tanpa wali, seperti Daud Dhohi, meskipun mazhab itu tidak begitu tersebar, tapi ada juga yang mau mengikuti mazhab itu. Padahal perbedaan itu sangat signifikan dalam kehidupan, tapi hal-hal yang seperti itu para ulama sepakat bahwa mereka itu saling dimaafkan, meskipun perbedaan sangat, sangat tajam. Tidak harus saling mengkafirkan satu sama lain, karena mereka dalam berijtihaj bukan untuk main-main tetapi sungguh-sungguh dengan seluruh nurani yang ada dalam hatinya, cuma nanti yang menentukan Allah SWT. 

Harapan Ustadz menghadapi berbagai perbedaan tersebut !
Kita harus saling menghargai, saling menghormati pendapat-pendapat orang lain, apa yang kita yakini, apa yang jadikan pandangan kita itu kadang-kadang tidak seratus persen benar. Tapi untuk mempertahankan prinsip itu perlu, mempertahankan pandangan-pandangan kita juga perlu, tapi juga tidak harus menafikan atau tidak menghargai pendapat orang lain. Karena Alqur’an itu unik, Alqur’an sangat universal, Qur’an itu bisa dipahami oleh semua kalangan baik kelas awam sampai cendikiawan. Alqur’an itu bisa dipahami sesuai dengan kapasitas berfikir yang dimiliki oleh seseorang.

Ciri-ciri Kecerdasan Setiap Anak

Diposting oleh: Lilik Soebari pada tanggal: Senin, 02 Mei 2016 | 0 komentar | Leave a comment...

Lilik Rosida Irmawati

Adapun 7 kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individual anak adalah :
  1. Linguistik  
  2. Logikal matematika              
  3. Musik
  4. Body genesthethic           
  5. Spatial (ruangan)
  6. Interpersonal                   
  7. Intra personal                 
Adapun ciri-ciri dari masing-masing tujuh kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak, adalah ; pada kecerdasan linguistik (bahasa), cirri paling spesifik adalah individual anak suka ber-bicara, ciri dari logical matematika, indivudual anak sangat perhitungan dalam menghitung perputaran uang, pada musik anak sangat respon dan peka terhadap musik. Sedangkan body kinestetik, ciri yang paling menonjol mempunyai gerak tubuh yang aktif/hiper aktif. Spatial (ruangan), individual ini mempunyai bakat terpendam dalam bidang melukis. Ciri yang terdapat pada interpersonal, adalah anak tersebut mempunyai karakter pribadi tertutup dan sangat pendiam, sedangkan ciri dari intra personal, anak tersebut mempunyai kepekaan social yang tinggi.

Sangatlah menarik sekali, karena para ahli psikologi melihat kecerdasan dalam pandangan yang lebih luas dan realistis. Namun sayang, tes kecerdasan selama ini lebih ber-orientasi pada kemampuan akademik saja, hanya mengukur aspek analitis, hanya mengukur keterampilan verbal dan logika matematika. Realita menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia selama ini, sebagian besar hanya menekankan nilai akademik (IQ) saja. Mulai dari sekolah tingkat dasar sampai ke bangku kuliah. Jarang sekali ditemukan pendidikan tentang kecerdasan emosional yang mengajarkan tentang ; intregitas, kejujuran, komitmen, kreatifitas, dan penguasaan diri.

Setelah  meneliti kecerdasan emosional, para ahli syaraf menengok aliran vertikal tentang keterkaitan 3 kecerdasan (IQ,EQ dan SQ), yang ternyata semuanya bermuara pada satu titik, yaitu “otak”. Penelitian dan pembuktian ilmiah pertama kali di temukan oleh ahli psikologi syaraf Michael Persinger (awal tahun 1990-an) dan lebih mutakhir pada tahun 1997, ahli syaraf M. Ramachandran dan timnya yang menemukan “Good Spot” dalam otak manusia, yang terletak di daerah pelipis, yang bertanggung jawab untuk hal-hal spritual dan mitis.

Fungsi spritual otak pada diri manusia itu tidak disikapi oleh sebatas mitos belaka atau gagasan-gagasan spekulatif saja. Beberapa orang, sebagian karena penasaran dan sebagian lagi  karena motivasi ilmiah, berusaha mencari Tuhan di dalam diri manusia, tepatnya, di dalam fisik manusia. Mereka menganggap bahwa Tuhan tidak hadir sebatas “semangat” saja. Bila Al-qur’an menyatakan bahwa ke-hanif-an (kecenderungan kepada yang baik) manusia menunjukkan hadirnya Tuhan, maka beberapa ilmuwan ingin mengetahui dimana ke-hanif-an itu berada. Apakah di dalam sel ? Di jantung? Di ginjal? Di dada? Di otak?

Ternyata riset ilmiah membuktikan bahwa fungsi yang diperankan oleh otak adalah ; (1) fungsi emosi, (2) fungsi rasional atau fungsi kognisi, dan  (3) fungsi refleksi. (spiritual). Menurut Ary Ginanjar Agustian (pakar ESQ), karena pendidikan yang diterapkan di Indonesia hanya menitikberatkan pada komponen IQ semata, maka dapatlah dilihat  kualitas sumber daya insani yang dihasilkan. Berbagai krisis multi dimensi yang terjadi semuanya bermuara pada krisis moral atau buta hati, yang terjadi dimana-mana. Meski mempunyai pendidikan tinggi, mereka hanya mengandalkan logika dan mengabaikan suara hati yang mampu memberikan informasi penting untuk mencapai keberhasilan.

 Al-Hadist riwayat Tirmidzi : “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengintropeksi dirinya dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan masa setelah kematiannya. Sedangkan orang yang bodoh adalah yang selalu mengikuti hawa nafsunya tetapi selalu berangan-angan atas pemberian Allah”          

Daftar Pustaka ;
  1. Revolusi IQ/EQ/SQ, dr. Pasiak Taufik, Mizan Pustaka.
  2. Quantum Learning, “Merasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan”, De Forter Bobbi dan Hernaski Mike.
  3. 15 Ledakan EQ, J. Stein Steven, Ph.D dan E, Book Howard, M.D, Mizan Pustaka.
  4. ESQ, “Berdasarkan 6 rukun Iman dan 5 Rukun Islam”, Ary Ginanjar Sebastian, Arga Jakarta
tulisan bersambung:

2.     Ciri-ciri Kecerdasan Setiap Anak




                                      

Menggali Potensi EQ Dan SQ Anak

Diposting oleh: Lilik Soebari pada tanggal: | 0 komentar | Leave a comment...

oleh Lilik Rosida Irmawati

Setiap orang tua senantiasa berharap, setiap anak yang dilahirkan sebagai penerus keturunan sekaligus amanah  dari Allah SWT, kelak menjadi anak yang cerdas, saleh dan berbudi luhur. Menjadi anak yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat serta bagi negara. Untuk menjadikan anak sehat, cerdas dan ber-prestasi, tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. 

Berbagai faktor dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, baik faktor genetika, perawatan yang baik pada waktu kehamilan, gizi yang memadai baik ketika janin berada dalam kandungan ataupun masa tumbuh kembang anak, perumahan yang layak, pemeliharaan kesehatan, kasih sayang serta lingkungan sosial masyarakat.

Komponen yang tak kalah pentingnya dalam pembentukan anak, adalah pendidikan. Dalam lembaga pendidikan ini potensi anak dikembangkan secara utuh dan  maksimal. Baik yang berkaitan dengan kecerdasan academies (IQ), kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual. Karena masih banyak yang ber pendapat bahwa keberhasilan dan kesuksesan hidup hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ) saja, tetapi asumsi semacam itu mulai ditepis dan diragukan. Banyak para pakar psikologi menyebutkan bahwa kecerdasan emosional memberikan saham 80 % bagi kesuksesan.

Hal itu disebabkan karena kecerdasan emosional bukan bersifat bawaan, kecerdasan emosional dapat dipelajari karena mencakup hasil-hasil pembelajaran dari lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga sampai lingkungan masyarakat luas. Karena itu kecerdasan emosional mempunyai peluang yang lebih besar untuk dikembangkan, karena dapat dilakukan melalui interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang bersifat genetik dan tidak bisa diubah,  kecerdasan emosional bisa dikembangkan dan dipelajari. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri, mampu mengelola emosi, mampu memotivasi diri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. Sehingga dengan memiliki keterampilan emosional tersebut setiap individu bisa me-manajemen diri dan empati, memahami orang lain dan bertindak bijaksana.

Dalam bukunya yang berjudul  “Ledakan Kecerdasan Emosional”, Steven J. Stein Ph.D dan Howard E, Book, M.D, membagi unsur-unsur dasar Kecerdasan Emosional dalam beberapa ranah, yaitu :

1. Ranah Intra pribadi, meliputi ;
  • kemampuan mengenal emosi diri/kesadaran diri
  • mengolah dan mengekspresikan diri/kemandirian/sikap asertif
  • memotivasi diri sendiri/penghargaan diri/aktualisasi diri
2. Ranah Antar pribadi, meliputi  ;
  • kemampuan memahami emosi orang lain (ber-empati),
  • kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain serta tanggung jawab sosial.
3. Ranah Penyesuaian Diri, meliputi :
  • Pemecahan Masalah, uji realitas dan sikap fleksibel
4. Ranah Penanganan Stress, meliputi :
  • Ketahanan menanggung stres
  • Pengendalian impuls/rangsangan
  • Kebahagiaan dan optimisme
Kecerdasan Emosional yang ber-pusat pada belahan kanan otak akan dapat ditingkatkan dengan mengubah keyakinan yang bersifat merusak serta menggantinya dengan keyakinan yang bersifat membangun. Sedangkan belahan otak kiri pola kerjanya berfikir realistis, bersifat secara logis, linear/searah dan rasional, namun mampu melakukan penafsiran, abstrak dan simbolis.

Cara berfikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistic. Selain itu bersifat non verbal, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi. Kedua belah otak kiri dan kanan akan bekerja dengan sempurna apabila ada rangsangan dan dorongan dari bagian lainnya (global learning). Oleh sebab itu otak harus terus menerus mengatur + memilih + mencari + mengorganisasikan + memilah + memberi arti + menghubungkan dan merumuskan. Dengan demikian aktifitas seluruh otak yang menggunakan belahan kanan (emosional) dan belahan kiri (logika) berjalan seimbang.

Aspek Kecerdasan Intelektual dan aspek Kecerdasan Emosional perlu dipahami oleh setiap pendidik dalam upaya mengembangkan kecerdasan anak sejalan dengan perkembangan usia. Pendidik harus menyadari bahwa setiap individu memiliki karakteristik kecerdasan yang berbeda. Dengan memiliki pemahaman bahwa setiap individu anak telah membawa aspek kecerdasan, maka proses pembelajaran serta upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia akan lebih dioptimalkan.

tulisan bersambung: 

2.     Ciri-ciri Kecerdasan Setiap Anak





Pemberdayaan Pendidikan dan Kebutuhan Perpustakaan

Diposting oleh: Lilik Soebari pada tanggal: | 0 komentar | Leave a comment...

Lilik Rosida Irmawati
Konon, air sungai Trigis berwarna kehitaman akibat kelunturan tinta. Itu terjadi pada tahun 1258 M di kota Bagdad. Pada saat itu Bagdad dipuja sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia. Namun akibat kerakusan, keserakahan, kebengisan, keberangasan, dan kebodohan pasukan Hulagu dari Mongol, bukan hanya membunuh dan membakar. 
Tetapi juga membakar buku untuk perapian (memasak makanan) dan menceburkan ke sungai Trigis. Hulagu, sang panglima perang berasal dari sebuah bangsa barbar, yang tidak peduli dengan jutaan entri dokumentasi, hasil pengembangan akal budi manusia. Setelah penyerbuan itu, kemasyhuran kota Bagdad meredup dengan hebat, karena telah kehilangan buku-buku berharga yang dijadikan rujukan pemikiran. Dalam satu generasi kerusakan mental tampak belum begitu parah, namun dalam beberapa generasi berikutnya, kekuatan mengingat menghilang.
Dari gambaran diatas dapat disimpulkan betapa penting dan vital peran buku dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Budaya baca harus menjadi sebuah kebutuhan untuk kemajuan pribadi maupun kepentingan umum. Motivasi membaca harus senantiasa diwacanakan oleh para pendidik maupun orang tua, khususnya membaca yang berkualitas. 
Budaya baca, perpustakaan dan ilmu pengetahuan merupakan tiga serangkai yang berkaitan langsung dengan pendidikan diri pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Fakta tersebut hendaknya memotivasi dan menyadarkan setiap warga negara, terutama masyarakat Sumenep. Dalam hal ini pemerintah daerah hendaknya lebih memberdayakan perpustakaan, baik dalam lingkup daerah, kecamatan, desa, maupun lingkup sekolah.
Perpustakaan umum, Perguruan Tinggi, Desa, maupun sekolah hendaknya menyediakan berbagai bahan bacaan yang bersifat edukatif, informatif, tetapi juga menyediakan bahan-bahan bacaan  yang komunikatif, populer dan bersifat rekreatif. Pada dasarnya perpustakaan juga sangat potensial bagi pendidikan non formal dan ajang mencari ilmu.
Peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, keluarga, masyarakat dan pemerintah daerah. Tak berlebihan apabila tanggung jawab tersebut dipikul bersama dengan membangun komitmen kuat untuk mencapai tujuan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia dalam upaya memaksimalkan pengelolaan Sumber Daya Alam yang melimpah ruah. 
Kekayaan botani kelautan yang ada di Sumenep belum bisa dieksplorasi maupun dieksploitasi secara maksimal untuk peningkatan aspek ekonomi, sosial dan budaya apabila esensi dari pendidikan belum tercapai. Melalui pintu pendidikan, jembatan emas membangun masyarakat yang madani, humanis, makmur dan sejahtera akan tercapai. Dan melalui pintu pendidikan pula, masyarakat Sumenep akan bisa dan mampu menjadi tuan di rumahnya sendiri.
********
Daftar Pustaka
  1. Fiske, Edward B. Decentralization of Education: Politics and Consensus diterjemahkan oleh Basilius Bengoteku. Desentralisasi Pengajaran: Politik dan Konsensus. Jakarta: Grasindo,1998.
  2. Anonim, Draff Rancangan Undang-Undang  Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  3. Syaukani, HR, dkk.2002. Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
  4. Anonim, Depdiknas  Kanwil Jateng. Muatan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan. Makalah disampaikan dalam Semiloka Implikasi Otonomi Daerah di Salatiga, Desember 2001.
  5. Dinas Perindag Dan Penanaman Modal Kabupaten Sumenep. Profil Potensi Investasi Kabupaten Sumenep 2006.
  6. Wilardjo, L. “Secercah Pandangan tentang Pengajaran Sains”, dalam Suwarno, P.J, et. Al (eds): Pendidikan Sains yang Humanistis, Kanisius Yogyakarta, 1998, pp. 50-94.
  7. Soegiarto, A. 1976. Pedoman Umum Pengelolaan Wilayah Pesisir. Jakarta: Lembaga Oseanologi Nasional
  8. KOMPAS : “Menjungkirbalikkan Logika Pendidikan”, Fokus KOMPAS Minggu, 2.3.2003.
  9. Abu-Duhou, Ibtisam. School-Based Management. Diterjemahkan oleh Noryamin Aini, dkk. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta. Logos Wacana Ilmu, 2002.
  10. Bakker SJ, J.W.M., Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar, Yogyakarta, Kanisius 1984
  11. Sukmadinata, Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung. Remadja Rosdakarya,1999.
  12. Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II: Kurikulum untuk Abad ke-21. Gramedia, 1994.
  13. Kaplan, D dan A.A. Manners, Teori Budaya, terjemahan Landung Simatupang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1999.
  14. Buchori, Mochtar, Transformasi Pendidikan. Jakarta. pustaka Sinar Harapan – IKIP Muhammadiyah Jakarta Prees, 1995.
  15. Soedjatmoko, “Pembangunan sebagai Proses Belajar”, dalam majalah Umum Basi, edisi Agustus 1985, XXXIV-8,hal. 283.
  16. Wiryawan, Budy. 1999. Peran Serta Masyarakat Belum Maksimal. Koridor, 1 Juli 1999
  17. Soekanto, Soerjono. 1986. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. Rajawali
  18. Basrowi, 2000. Transformasi Sosial Masyarakat Pesisir: Studi Perubahan Okupasi Masyarakat Pesisir. Lampung. USAID – BAPPENAS
  19. Baharuddin Dan Meneth Ginting. 1997. Konsepsi Dan Pelaksanaan Pembangunan Desa Pantai. Medan USU Press.
********

Tulisan ini telah terbit di majalah Edukasi tahun 2012
Penulis dikenal juga dengan nama Lilik Soebari atau El  Iemawati, menulis sejak  dibangku SPG. Tulisannya banyak termuat disejumlah media cetak  ibu kota dan  daerah dalam bentuk cerpen, novel, dan artikel pendidikan dan budaya.  Bukunya yang telah terbit “Berkenalan dengan Kesenian Tradisional Madura (Penerbit SIC Surabaya, 2004). Ghai Bintang (Penerbit Disparbud Sumenep, 2007)  dan sebelumnya menulis cerita bersambung “Marlena, Perjalanan Panjang Wanita Madura” di sebuah majalah Surabaya (1992). Selain menulis kerap tampil sebagai pembicara, khususnya dalam bidang pengembangan pendidikan dan budaya, selain sebagai reporter tetap Tabloit “Info” Badan Kominfo, Kabupaten Sumenep. Perkerjaan tetapnya, sebagai guru di RSDBI Pangarangan III Kecamatan Kota Sumenep.
Penulis adalah pengelola blog ini, dengan akun FB: https://www.facebook.com/lilik.soebari

Jurnalisme Warga

Dunia Wanita

Terbaru

Recent Posts Widget

Posting Pilihan

Memuat...

Hidup Sehat

Kamus Besar Bahasa Indonesia